Morning Kiss
"apa tak ada makanan yang dapat ku makan?" Tanya si tinggi putih yang bernama lengkap Oh Sehun.
Baru 10 menit Sehun menginjakan kakinya di apartement milik kekasihnya, Shin Jaera. Ia mendapat libur 2 hari dari sang manager dan memilih tempat tinggal kekasihnya untuk menghabiskan waktu luangnya.
"lihat saja sendiri di kulkas. Kau tak melihatku sedang sibuk?" Jawab Jaera kesal matanya masih terfokus mengamati deretan huruf dan angka yang ada di hadapannya.
Dengan berat hati Sehun menyeret kakinya ke dapur membuka kulkas dan mengambil beberapa snack yang akan ia makan. Serta menuangkan susu kedalam dua gelas kaca.
"Omoo!! Kenapa sedari tadi aku tak bisa fokus!" Teriak Jaera didepan laptop kesayangannya. Ia harus membuat laporan dari hasil penelitian yang ia lakukan sebelumnya.
Jaera menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mendengus sebal sekaligus lelah. Matanya sudah cukup di forsir untuk mengerjakan laporannya semalaman bahkan hingga matahari memancarkan sinarnya.
"Kau hanya perlu istirahat sebentar. Jangan memaksa diri berlebihan seperti itu." Sehun memijat pundak Jaera lembut.
Jaera tersenyum tipis mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang kekasih.
"Tak baik wanita terlalu banyak begadang. Kau tidak takut lingkaran matamu menjadi hitam seperti panda?" Lanjut Sehun masih dengan pijatan ringan di pundak Jaera.
"Tak masalah. Berarti kau tak perlu khawatir karna tak akan ada lelaki yang menggodaku." Jawab Jaera sekenanya.
"ish. Kau tak mau tampil cantik didepanku?" Sehun memperkuat pijatannya, kesal dengan jawaban yang diberikan Jaera.
"aku tak peduli bagaimana penampilanku. Toh sampai saat ini Oh Sehun yang tampan masih saja menempel padaku si gadis jelek." Jaera berhasil membuat Sehun kalah telak.
Benar apa kata Jaera. Oh Sehun si putih tampan yang selalu digilai semua kalangan wanita di luaran sana sudah terpenjara oleh Jaera si manis nan sederhana yang ia temui di salah satu pusat perbelanjaan tahun lalu.
"Baiklah aku kalah. Kalau begitu berikan itu padaku." Sehun melepas tangannya dari pundak Jaera dan memutar kursi yang diduduki kekasihnya.
"Berikan apa?" Tanya Jaera tak mengerti. Alisnya sedikit berkerut melihat senyuman yang sudah terpatri di bibir Sehun.
"Kita sudah 2 bulan berpacaran dan kau masih belum mengerti?" Alih alih menjawab Sehun malah kembali melontarkan pertanyaan.
"Tak perlu basa basi Sehun sayaang. Katakan saja langsung apa yang kau inginkan!" Jaera mencubit gemas pipi Sehun.
Sehun sedikit berfikir. Egonya sangat tinggi untuk sekedar meminta ciuman dari kekasihnya.
'Apa aku benar-benar harus mengatakannya langsung?' batin Sehun.
"Oh ayolahh Sehun, cobalah untuk sedikit mengurangi egomu yang tinggi itu." Sindir Jaera yang sadar akan sifat sang kekasih.
"aku ingin... itu." pinta Sehun akhirnya seraya menunjuk bibir Jaera dan cepat cepat menutup wajahnya.
"pfft- bwahahaha.." Jaera tertawa terpingkal melihat Sehun yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Jangan meledekku, noona jelek!"
"ahahaha.. tak perlu malu seperti itu adik manis. Aku akan memberikannya untukmu, tapi nanti setelah aku sikat gigi." ucap Jaera yang sudah bisa mengendalikan dirinya.
Jaera bangun dari kursi berniat membersihkan wajahnya di kamar mandi. Tapi niatnya gagal karena Sehun menahan pergelangan tangannya dan membalikkan badan Jaera.
"Tunggu sebentar Oh Sehun." Jaera melepas tangan Sehun tapi dengan cepat Sehun menarik Jaera ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu. Sungguh." Eluh Sehun seraya menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Jaera.
"aku juga. Suruh siapa kau jadi artis? Aku kan jadi tak punya banyak waktu luang bersamamu." Jaera membalas dengan sedikit candaan.
Sehun melepas pelukannya dan membingkai wajah Jaera dengan tangannya. Sedangkan Jaera mengalungkan tangannya di leher Sehun.
"tunggu sebentar saja yaa. Aku bau." pinta Jaera.
"sayangnya aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, honey." dengan cepat Sehun meraup bibir manis Jaera, menekan tengkuk si wanita agar tak melepas pagutannya. Jaera hanya bisa membelalakan matanya kaget sebelum akhirnya mengikuti permainan kekasihnya.
.FIN
-storyline by Sung Ji Kyo.
